Monday, May 14, 2007

Mojang for Rent - Part 4: The Clients

Sekarang adalah perjumpaan kedua saya dengan Alex. Kali ini kami janji bertemu di salah satu cafe anak muda terkenal di kawasan Dago. Sama seperti sebelumnya, dengan pakaian modis ia telah duduk di sebuah meja sambil berbicara di telepon genggam. Ternyata yang baru saja berbicara dengannya adalah perwakilan dari salah satu perusahaan berskala internasional yang ingin menjamu tamu-tamunya dari Malaysia dengan gadis-gadis Alex yang sudah terkenal cukup berkelas.

Yups, para ‘pengguna’ lady escort yang melalui Alex bukan orang tajir lokal saja, tapi juga pengusaha-pengusaha asing yang kebetulan ada urusan bisnis di Bandung. Kebanyakan mereka berasal dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Korea dan Jepang. Memang karena kesibukkan dan jadwal yang padat, tidak semua pengusaha tersebut meminta escort untuk diajak bermalam dan berhubungan seks. Ada juga yang hanya minta ditemani jalan-jalan dan karaokean saja.

Para ‘pengguna’ lady escort yang melalui Alex bukan orang tajir lokal saja, tapi juga pengusaha-pengusaha asing yang kebetulan ada urusan bisnis di Bandung. Kebanyakan mereka berasal dari Malaysia, Singapura, Taiwan, Korea dan Jepang.

Boleh percaya boleh tidak, meski tak pernah bertatapan langsung dengannya (selalu melalui ajudan), salah satu klien terbesar Alex adalah seorang kepala pemerintahan provinsi di Indonesia! Permintaannya pun agak aneh. “Jadi, gubernur luar pulau ini minta dicarikan seorang gadis cantik, tapi bukan yang berprofesi model atau SPG, untuk dijadikan simpanan dan akan dibelikan rumah, mobil serta dibiayai kuliahnya hingga selesai kalo masih kuliah.” Alex menjelaskan. Karena Alex hanya punya link gadis-gadis yang berprofesi sebagai model saja, maka untuk permintaan aneh seperti ini ia akan menghubungi temannya yang lain, sebut saja namanya Ronald, yang pekerjaannya tidak jauh berbeda dari Alex, yaitu penyedia gadis-gadis panggilan. Kebetulan Ronald tahu beberapa mahasiswi cantik yang bisa dipakai.

Seiring dengan semakin berpengalamannya Alex menjalani bisnis sebagai ‘penghubung’ ini, ia pun mulai pilih-pilih klien. Tak semua orang bisa semudah itu mendapatkan high class lady escort darinya. Klien harus memiliki rekomendasi yang cukup bagus dan latar belakang yang meyakinkan. Ia tak ingin pengalaman buruk yang pernah menimpa seorang modelnya terulang lagi. “Ketika itu salah satu model gue, Puspa (nama samaran), gue kenalin ke seorang pengusaha Jakarta. Pengusaha itu berani bayar tinggi buat make Puspa soalnya mukanya Puspa mirip bintang sinetron terkenal. Eh nggak taunya pengusaha itu punya kelainan sadomasochist (gemar menyiksa untuk kepuasan seksual). Dihajarlah si Puspa ampe babak belur. Untung aja kasusnya ga ampe ke polisi. Gue ngerasa bersalah banget ama Puspa. Makanya sekarang gue milih-milih klien banget. Kalo perlu gue nanya-nanya ke kenalan gue soal klien baru yang pengen make model gue,” ceritanya.

Tak terasa segelas hot chocolate praline yang saya pesan telah habis diminum. Banyak sekali cerita menarik yang saya dapatkan dari Alex, pemuda yang amat ramah dan bersahabat. Jauh dari imej bisnis yang dijalaninya. Obrolan kami pun berakhir sampai disitu, tapi ia berjanji akan mengenalkan saya dengan salah satu model papan atasnya. Walaupun isi dompet saya tak akan sanggup mencukupi, lumayan kan untuk sekedar berkenalan.[ i-ron]


- The End -


4 comments:

Azhar said...

untung nama gw lo samarin jadi alex, coba klo engga kan bisa ketauan profesi aseli gw hehehe

Ez said...

hmmm... *manggut2*.... Ada contact person yang bisa dihubungi?

hehehehhe


hi, ron. how's life?

Tatz said...

Iya niyhh...Zar, waktu elo ngenalin gw sama om sado itu, gw sempet bt sama elo.....Hahahahaha....*makin ngacoooo*....

Well, ron,is this true??

Ronn said...

Azhar: Yuk mariiii...

EZ: Lewat gw ajah, hehehe. Hey, im doin hot! :D

Tatz: Maaf yah Tatz... waktu itu gw BU banget.... :P